Search This Blog

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Monday, June 30, 2008

"Sex and the City" erobert das deutsche Kino

Lagi dan lagi malam minggu kemaren adalah weekend yang sangat menyenangkan buat aQ karena ahirnya keturutan juga nonton film "sex and the city" bareng sama sohib2 ku di Berlin Ina dan Rani . Sebetulnya kita udah rencana nonton ini film sejak minggu lalu, tapi batal karena salah 1 dr Qt ada halangan, untungnya kali ini ahirnya kita jadi nonton juga.

aQ sendiri sebetulnya sewaktu di Jakarta jarang sekali atau bahkan hampir tidak pernah nonton film serinya! Entah kenapa waktu itu kok malas rasanya menunggu seri film ini seminggu sekali di TV padahal ceritanya menarik dan sangat gampang buat diikuti, mungkin juga karena di Indonesia film ini diputarnya selalu hampir tengah malam karena dikategorikan sebagai film dewasa kali yah.

Ceritanya It was two years after the last of the series kalo ga salah nangkep. Keempat sahabat ini sudah punya kehidupan sendiri. Miranda yang sibuk dengan pekerjaan dan suami dan seorang anak, Samantha the sex lover yang hidup bersama Smith sang actor setelah lima tahun, Charlotte yang hidupnya benar benar layaknya sebuah fairy tales bersama suami dan Lily anak angkatnya, dan tentunya dong… ga akan jadi SEX AND THE CITY without Carrie yang masih bersama Mr BIG dan ternyata memutuskan mereka akan menikah setelah mereka berhubungan selama 10tahun..!

4 tahun setelah perambokan kendaraan dan pemecahan hal tabu dlm seri di tv terakhir kali melalui ruang tamu, sekarang 4 orang protagonis ini dipertontonkan di bioskop, bagaimana kelanjutan hidup percintaan mereka yg berantakan.

(Vier Jahre, nachdem die bahn- und tabubrechende TV-Kultserie zum letzten Mal durch die Wohnzimmer geflimmert war, zeigen die vier Protagonistinnen jetzt im Kino, wie es weiter geht mit ihrem chaotischen Liebesleben.)
Mit ihrem entwaffnend frechen und unverhohlen selbstbewussten Mundwerk haben die New Yorkerinnen die Bildschirme der westlichen Welt im Sturm erobert. Schamlos waren sie nicht nur im Umgang mit ihren sexuellen Bedürfnissen, sondern vor allem auch mit ihrer Sucht nach luxuriöser Mode. So haben sich die Zeitgeist-Kolumnistin Carrie (Sarah Jessica Parker), PR-Agentin Samantha (Kim Cattrall), Anwältin Miranda (Cynthia Nixon) und die Galeristin Charlotte (Kristin Davis) in 94 Fernsehfolgen als moderne Prinzessinnen etabliert.

Nun kommt am Donnerstag (29.5.08) mit "Sex and the City" das Kondensat einer aktuellen Serie in die deutschen Kinos. Das Team nahm sich Zeit, um ein Konzept zu entwickeln, in dem die jahrelang gesponnenen Geschichten nicht einfach nur weiterplätschern. Das Frauenquartett ist ein Paradox zwischen konservativen und progressiven Werten, zwischen ungebundener Freiheit auf der einen Seite und der ungebrochenen Sehnsucht nach bürgerlicher Bindung auf der anderen.

Datangnya keputusan buat menikahnya sama sekali tidak indah dan tidak romantis! But, what the hell! Yang penting menikah! Buat seorang di usia 41 seperti Carrie, yang awalnya tidak terlalu peduli akan seperti apa pernikahannya, terbawa juga euphoria yang ditularkan oleh Charlotte yang begitu mencintai pernikahan! Sekalipun Samantha yang sangat skeptis terhadap pernikahan dan lebih mempercayai BOTOX pun akhirnya mendukungnya. Tapi Carrie lupa, buat BIG ini adalah pernikahan ketiga! Dan terjadilah! BIG yang mengalami keraguan besar tepat di hari H pernikahan, decided to walk away from the wedding, dan mengacaukan segalanya! Godamned him! Carrie yang sudah terlalu kecewa dan sakit hati menolak buat kembali sekalipun BIG menyatakan bahwa tadi dia hanya gugup dan sudah siap kembali sekarang (dan dibagian sini saya dan BFF dengan puasnya bilang laki gitu tuh…sadar apa apanya selalu belakangan!) dan paling puas melihat Charlotte yang mengamuk dan melarang BIG mendekati sahabatnya! That “DONT!” she did was awesome! This scene was the most emotional part for us!

Dan satu hal lagi yang menarik buat kita2 cewek yang nonton film ini adalah mode pakaian dan acesories yang mereka kenakan, luar biasa menarik... ckckck... modies habis lah..

Insgeheim haben alle denselben Wunsch

Filmszene mit drei der Ladies Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift:
Die Kultstars in Aktion.
Doch hinter frecher Schnauze und selbstbewusster Geste schlummern dann doch nur kleine Mädchen, mit der großen Sehnsucht nach dem Traummann Mr. Big. Genau das zelebriert der Firm, in dem wie in der Serie die prickelnde Metropole New York und die aberwitzigen Kreationen der Kostümbildnerin Patricia Field weitere Hauptdarsteller sind.



Bekannte Schauplätze

Wie ernst man es mit der Authentizität des Serien-Appeals nahm, lässt sich auch daran ablesen, dass bekannte Schauplätze nachgebaut wurden. Mit Ausnahme einer persönlichen Assistentin für Carrie, die von Jennifer Hudson wunderbar beherzt und warmherzig gespielt wird, bleibt das Personal im Wesentlichen auf die bekannten Figuren beschränkt.

Dem Film vorzuwerfen, dass er nur eine auf 135 Minuten aufgeblasene Version der 25-minütigen Episoden sei, ist genauso müßig wie der Versuch, seine schamlos künstlichen Kreationen an der Wirklichkeit zu messen: Schließlich war Hollywood noch nie für Realitätstreue berühmt, und in den vierziger Jahren wäre auch niemand auf die Idee gekommen, den luxuriösen Stil der Screwball-Comedies als wirklichkeitsfremd zu verteufeln.

4pemeran pertama dengan regisur Michael Patrick King (Die vier Hauptdarstellerinnen mit Regisseur Michael Patrick King)
"Regisseur Michael Patrick King mit seinen Ladies"

Vor vier Jahren endeten die vier experimentierfreudigen New Yorkerinnen zum Abschluss der Serie allesamt in festen Beziehungen. Am Anfang des Kinofilms sind aus den Thirtysomethings nun Fortysomethings und Almost-Fifties geworden. Während sich bei den anderen unter dem Druck des Alltags mit Arbeit und Kindern erste Risse in den Beziehungen zeigen, schickt sich Carrie an, ihren Mr. Big zu heiraten. Und was wäre besser geeignet als eine Hochzeit, um Konsumlust und Spaß am Sex, von jeher die Antriebsmotoren der Serie, für die Leinwand in Szene zu setzen?

Trotz konstruierter Gags und gewisser Holprigkeiten ist Michael Patrick Kings Kinodebüt gelungenes Entertainment.

Monday, May 12, 2008

Belajar dari Film Kungfu Panda

Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam suatu kompetisi, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yang dinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:



1. The secret to be special is you have to believe you're special.



Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri.

Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik dan berharga, kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, "You just need to believe"

2. Teruslah kejar impianmu.

Po, panda gemuk yang untuk bergerak saja susah, pada akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu.

Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present.
Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut hadiah (gift = present).

Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.


3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.

Pada awalnya Master Shi Fu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Tapi kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah Shi Fu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu-lah satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga sering kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4. Tiap individu belajar dengan caranya sendiri dan motivasinya sendiri.


Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan yang sama seperti 5 murid jagoannya yang lainnya.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.

5. Kebanggaan berlebihan atas anak / murid / diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.

Master Shi Fu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.


Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri / anak / murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.


Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya.

Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7.Keluarga sangatlah penting.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?


Thursday, May 8, 2008

Kungfu Panda: Everybody Was Kung Fu Fighting


"Kung Fu Panda," an occasionally delightful animated comedy with roots in traditional kung fu movies, is a case in point. Audiences all over the world have marveled at the skills of such martial arts stars as Bruce Lee and Jet Li and marveled and laughed at the amazing antics of Jackie Chan. But those fellows, however athletic, have been limited, more or less, by the realities of the physical world. "Kung Fu Panda" is not.

"Kung Fu Panda" is the biggest release, and it really is good fun. It's joined at multiple locations by the wreck that is "You Don't Mess with the Zohan" and the surprisingly effective comedy "The Foot Fist Way," which looks pretty small in this company.