Search This Blog

Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Wednesday, September 6, 2017

Culinary

Nama saya Crystal Bhetari Kashita, biasa dipanggil Crystal.
Saya lulusan dari SMAN 88 Jakarta Timur.

Menurut saya, culinary adalah hal-hal yang berhubungan dengan masakan dan dapur.
Culinary menurut saya adalah hal yang sangat menarik, karena kita bisa belajar banyak hal dari bidang masakan, seperti kultur suatu negara.

Salah satu culinary lokal yang saya suka adalah sambal krecek gudeg khas Jogjakarta. Sambal krecek adalah bagian yang paling saya sukai dari gudeg karena rasanya yang cukup pedas, gurih, dan pelengkap yang pas untuk manisnya rasa nangka pada gudeg.



  • Bahan-bahan untuk membuat sambal krecek :
  1. Kulit sapi atau krecek 150 gram
  2. Kacang tolo 100 gram
  3. Santan encer dari setengah butir kelapa sebanyak 1.000 ml atau 1 liter.
  4. Cabai rawit segar, 10 buah. Dicuci. Tambahkan cabainya jika ingin lebih pedas.
  5. Lengkuas, 4 cm. memarkan.
  6. Daun salam, 3 lembar.
  7. Serai, 1 batang. Memarkan, kemudian simpulkan.
  8. Minyak goreng, sekitar 3 sendok makan atau secukupnya.
  9. Gula merah yang disisir sebanyak 1 sendok makan atau secukupnya.
  10. Air, secukupnya.
  • Bumbu yang dihaluskan:
  1. Bawang merah, 6 siung.
  2. Bawang putih, 4 siung.
  3. Cabai merah keriting, 5 buah. Opsional.
  4. Terasi bakar, ½ sendok teh. Jika Anda tidak suka terasi, maka bahan ini bisa dihilangkan.
  5. Garam, secukupnya.
  • Cara memasaknya :
  1. Siapkan wadah. Rendam krecek dalam wadah tersebut menggunakan air secukupnya. Setelah beberapa lama, akan keluar minyak dan kotoran jika krecek mengandung minyak dan kotoran yang berlebihan. Buang air rendamannya dan tiriskan krecek tersebut. Sisihkan.
  2. Siapkan wajan dan panaskan minyak untuk menumis bumbu halus hingga aromanya tercium.
  3. Masukkan daun salam, lengkuas, dan serai. Aduk rata hingga bumbu matang.
  4. Tuangkan santan encer, aduk terus secara perlahan hingga santan mendidih.
  5. Masukkan krecek, kacang tolo, aduk hingga semua bumbu meresap.
  6. Setelah terlihat air santan menyusut hingga ¼ bagian, masukkan cabai rawit utuh.
  7. Masukkan juga sisiran gula merah. Aduk kembali hingga semua bahan tercampur dan meresap sempurna. Lakukan sampai sambal matang.
  8. Setelah matang, angkat dan sajikan dalam piring atau mangkuk saji.

Tuesday, December 8, 2009

Spenden für HSC (Heaven Special Child) schule durch ein Chor

Seperti judulnya "Spenden für HSC schule durch ein Chor" yg artinya "Sumbangan untuk sekolah HSC (Heaven Special Child) melalui sebuah paduan suara", gw mau berbagi pengalaman tentang hal itu.. Setiap tahunnya pendiri sekolah ini (orang Jerman yang namanya Sabine) menampilkan sebuah paduan suara sekaligus penarik biar orang2 mau menyumbang untuk sekolah tersebut, tapi karena gw baru ikutan paduan suaranya tahun ini ya jadinya baru nulis tentang hal ini sekarang deh..

(pasar natal di samping Opernpalaist)

Pertama2, gw mau nyeritain sedikit tentang sekolah ini. Sekolah ini didirikan pada tanggal 17 juli 2006 oleh HSC team yg dipimpin Sabine Lehman. Sekolah ini adalah sekolah dasar dengan latar belakang kristen yang diperuntukan bagi anak2 dari keluarga tidak mampu di Jakarta. Sekolah ini terletak di kosambi baru, Jakarta barat, Indonesia.


Jenjang pembelajaran di sekolah dasar ini sudah tersedia mulai dari kelas 1 SD dan diperuntukan bagi anak2 yg cacat maupun tidak. Mereka tidak hanya belajar bahasa Indonesia maupun Inggris, tapi juga bahasa Jerman, berhubung sekolah ini sekolah yg bekerjasama dengan negara Jerman. kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dari jam 7.30 - 14.30 dengan waktu istirahat 30 menit. mereka tentunya diberikan juga makan siang dari yayasan HSC ini. Tenaga guru sekolah ini pun tidak sembarangan, mereka adalah lulusan dari berbagai universitas & dengan suka rela memngajarkan anak2 yang kurang mampu tersebut.


Sekolah ini tidak memungut biaya sedikitpun dari keluarga anak2 itu. Sekolah ini dibiayai melalui sumbangan dari beberapa kegiatan seperti menyanyi (choir) di pasar natal ( Weinachtsmarkt / Christmast Markt) saat natal tentunya, menyanyi di gereja2, dan melalui sponsor2 dan orang2 yang mempunyai hati untuk menolong anak2 yang kurang beruntung tersebut.
itu beberapa informasi mengenai sekolah HSC yang bisa gw berikan dan kalau mau tau lebih lengkap bisa kalian buka di www.hsc-schule.de


Sekarang gw mau menceritakan tentang paduan suaranya. Pas pertama kali gw diajak untuk ikut acara ini gw langsung mau karena kami bernyanyi bukan untuk nyombongin diri tapi untuk tujuan yang baik. Kami mulai berlatih untuk event ini 3minggu sebelum kita tampil dan sebenernya ini waktu yang sedikit, tapi gpp karena hanya beberapa x latihan kita semua langsung bisa kompak. mungkin krna lagu2 yang kita nyanyin itu lagu2 natal yang kita kenal cuma dengan bahasa yang beda yaitu bahasa Jerman. Chor kami akan bernyanyi setiap minggu advent di Weinachtsmarkt am Opernpalaist dari jam 19.00 - 20.00 (kurang lebih).. Ditiap penampilan kami menyanyikan 7 - 8 lagu dan disetiap lagu kami menyanyikan 2 bait bahasa Jerman & 1 bait bahasa Indonesia.


Memang sih kami bukan penyanyi / choir profesional, tapi kami yakin kalau kami bernyanyi dengan tulus untuk menolong sesama kita maka hasilnya pun akan menjadi indah. So, bagi yg mau dateng silahkan dateng yah, bahkan kalau mau ikutan spenden (nyumbang) itu lebih bagus lagi..

Tuesday, March 17, 2009

Banyak sekali pertanyaan kepada saya, saat anak saya mendapat NEM tertinggi dengan rincian nilai 10 untuk bahasa inggris, 10 untuk bahasa indonesi

a dan 9,67 untuk matematika (NEM = 29,67 tertinggi se bekasi, dan nilai tsb kedua tertinggi nasional).  Artinya ia hanya salah satu soal di subject matematik.  Bila ia lebih teliti maka ia mendapatkan nilai NEM sempurna 30… tapi ya… itu sudah hasil yang maksimal dan kami sangat bangga akan prestasinya.

Sebenarnya ia tergolong anak yang malas belajar, tetapi sangat maniac dengan game.  Kalau diminta/diingatkan untuk belajar sendiri … paling lama kuat setengah jam itupun diselingi keluar kamar, ambil minum, ke kamar mandi, dll ….. pokoknya nggak betah aja belajar….  tapi kalau main game 6 jam pun dia masih tahan.

Lalu karena prestasi belajarnya terus menurun padahal saat SD ia adalah lulusan terbaik, maka untuk mengembalikan prestasinya sayapun menyimpan Play Station kesayangannya dan hanya boleh dimainkan malam minggu dan minggu pagi saja.  Saat hari belajar, wajib belajar selama 2 jam sehari efektif. Nah ini tips pertama …. disiplin membagi waktu antara main/istirahat dan belajar.

Selanjutnya saya membelikan soal-soal ujian terdahulu (sekitar 5-7 tahun ke belakang) dan kumpulan soal lainnya serta juga buku-buku ringkasan teori dan rumus untuk dipelajari ulang.  Buku-buku dan soal tersebut diberi target untuk menyelesaikan… sejak 2 bulan sebelum ujian…. mepet iya…tapi ya belum terlambat !

Disamping itu ia pun ikut bimbingan belajar dari lembaga yang cukup dikenal.  Sekolah pun mengadakan beberapa kali try out UN.  Hasil try out dan latihan dirumah selalu dibahas dan bila kurang paham atau trampil dalam topik tertentu maka perlu pendalaman materi dengan membaca buku teori atau ringkasan rumus.  Beruntung dengan nasihat dan dorongan motivasi ( kami juga sering menemani saat ia belajar)… anak saya mau menjalankan ini semua dengan sungguh-sungguh…. Ini termasuk tips kedua dan ketiga … yaitu belajar, latihan dan latihan soal, serta dorongan orang tua atau orang terdekat

Tips keempat yaitu jaga kesehatan.  Ya 2-3 bulan menjelang ujian, fisik dipersiapkan dengan makan yang bergizi, teratur dan juga istirahat dan hiburan yang cukup.  Ini agar tidak jenuh dan selalu segar saat waktunya belajar

Tips kelima yaitu … jangan permasalahkan sistem pendidikan di kita… sistem Ujian Nasional, Depdiknas, …. dlsbnya…. fokus pada persiapan menghadapi ujian … karena mau tidak mau kita akan menghadapinya.

Tips keenam yaitu … berdoa.  Kami  (orang tua dan anak saya) sama-sama berdoa setiap sebelum dan sesudah belajar serta setelah shalat …. saat shalat malampun (tahajud) kami memohon doa agar ia dapat menempuh ujian dengan baik dan mencapai prestasi terbaiknya.

Saat menjelang ujian, melihat ruangan, mempersiapkan segala sesuatu seperti alat tulis yang dibutuhkan seperti pinsil dua buah yang sudah diraut, rautan, penggaris, dll.

Dan konon kata gurunya (saya tidak tahu kebenarannya), anak saya pemecah rekor bahasa indonesia 10 dalam sejarah UN.  Padahal saat try out pertama … anak saya paling lemah di Bahasa Indonesia hasilnya disekitar 7…. saat saya melihat kesalahannya, sayapun bingung dengan jawaban yang benar, anak saya pun kesal …dan katanya : “benerkan soalnya aneh..nggak jelas …..”

Karena tidak bisa membantu langsung, maka saya minta anak saya berlatih soal lebih banyak (plus kunci jawabannya) agar lebih memahami cara berfikir si pembuat soal dan juga berdiskusi dengan guru.  Saat ia mendapatkan nilai sempurna 10, saya pun berkata : “hebat kamu nak, kok akhirnya kamu bisa ?”jawabannya : “… ya…. setelah banyak latihan akhirnya saya tahu cara berfikir si pembuat soal seperti kata ayah ……”

Dari uraian di atas memang tips tersebut bukanlah tips baru, sekali lagi kuncinya adalah : disiplin membagi waktu, belajar, latihan soal, bimbingan dan dorongan orang terdekat, menjaga kesehatan, persiapan akhir dan jangan lupa berdoa.

Untuk yang hendak ujian atau orang tuanya semoga ini menjadi inspirasi …. minimal mengingatkan kembali karena sebenarnya tips ini bukan hal baru …..

Selamat menempuh Ujian Nasional, semoga sukses !

Saturday, January 10, 2009

Perbedaan Pendidikan Jerman dengan Indonesia

Sebenarnya banyak sekali perbedaan antara pendidikan di Jerman dengan Indonesia. Dari sisi sistem saja, pendidikan itu sudah berbeda. Di Jerman, jenjang pendidikan Pra Perguruan Tinggi itu hanya ada 2 macam, yaitu pendidikan dasar (Grundschule) dan pendidikan lanjutan (Gymnasium, Realschule, atau Berufschule). Kalau di Indonesia, pendidikan Pra Perguruan Tinggi ada 3 macam, yaitu SD-SMP-SMA. Dari sisi waktu juga berbeda, di Indonesia memerlukan waktu 12 tahun (normal) sebelum ke jenjang Perguruan Tinggi, sedangkan di Jerman butuh waktu 13 tahun. Tulisan tentang Sistem Pendidikan Jerman dapat anda baca di SINI.

Yang ingin saya bahas bukan masalah “teknis” pendidikan seperti di atas. Saya tertarik dengan tulisan I Made Wiryana dalam sebuah milis tentang pendidikan di Jerman. Dia menuliskan bahwa konsep pendidikan di Jerman adalah cenderung pemerataan hak mendapatkan pendidikan. Ini berlaku untuk orang asing atau orang Jerman yang tinggal di Jerman. Artinya secara konsep yang diutamakan adalah pemerataan pendidikan daripada pencapaian puncak-puncak hasil pendidikan.

Dia memberikan contoh bahwa ketika hasil PISA rendah, seluruh Jerman panik. Akan tetapi, ketika ada anak-anak Jerman yang dapat hadiah “the best xxxx dalam lomba sains”, orang menganggap hal itu biasa saja. Hal ini terbalik dengan Indonesia yang sangat bangga terhadap prestasi anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia di dunia.

Contoh lain adalah jika karier anda sebagai orang lembaga pendidikan ingin maju di Jerman, anda harus pindah ke kampus-kampus kecil (di kota kecil). Beliau menjelaskan bahwa prinsip ini membuat pemerataan kualitas pendidikan terjadi secara alami. Dan lagi-lagi, ini berbeda dengan Indonesia. Orang Indonesia cenderung memiliki kebiasaan “pintar kumpul dengan pintar” dan “kaya kumpul dengan kaya”.

Melihat kondisi di atas, membuat saya tersenyum. Saya yakin kualitas pendidikan Indonesia bisa meningkat drastis. Syarat utama hanya 2 macam, pemeratan pendidikan dan penghargaan terhadap prestasi pendidikan. Itu saja. Bila kedua syarat terpenuhi, saya yakin semakin banyak anak-anak Indonesia yang berprestasi pada ajang internasional dan semua anak-anak Indonesia bisa masuk ke bangku sekolah. Semoga.

Tuesday, May 6, 2008

Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa

Oleh: Togap Siagian

Mindset: A fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations.


Perburuan saya mencari beasiswa dimulai setelah saya bekerja di sebuah perusahaan tambang asing di timur Indonesia. Saya ingat beasiswa pertama yang saya coba adalah beasiswa dari Australia, yaitu The Australian Development Program. Hanya bermodal keinginan kuat dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi, saya mengirimkan lamaran saya tanpa dilengkapi beberapa dokumen yang diperlukan. Itu pengalaman pertama saya, dan hasilnya bisa diramalkan: gagal.

Percobaan kedua, beasiswa Chevening Award dari negara Inggris yang menjadi sasaran saya. Seingat saya, salah satu persyaratan beasiswa ini adalah menulis esai. Dokumen dokumen yang diperlukan sudah saya peroleh. Tetapi untuk urusan esai, wah, saya benar-benar cuek. Esainya saya tulis seadanya tanpa memperdulikan isi tulisan, struktur, dan lain-lain. Hasilnya lagi-lagi bisa diramalkan: gagal deuy!

Yang ketiga dan, syukurlah, yang terakhir saya mencoba beasiswa Fulbright dari negara Amerika Serikat. Untuk yang terakhir ini, persiapan saya jauh lebih matang. Pertama, selama sebulan penuh saya belajar mengerjakan soal-soal ujian TOEFL. (In case kamu bertanya, saya menggunakan buku terbitan Barron’s). Teman-teman yang mengunjungi rumah tempat saya tinggal bisa melihat bagaimana setiap malam saya sibuk berkutat dengan buku tersebut. Saya membuat target untuk menyelesaikan sepuluh soal setiap malamnya. Bukan hanya saya kerjakan sambil lalu, tapi saya pastikan setiap kali saya mempunyai masalah, saya mendapatkan penjelasan yang baik.

Kedua, sekali ini, saya bela-belain bolak-balik Jakarta Bandung hanya untuk mendapatkan surat rekomendasi dari dua orang dosen yang cukup saya kenal. Benar, yang diminta hanya satu surat rekomendasi. Tapi kali ini, saya tidak mau membuat kesalahan. Saya pastikan saya mendapatkan surat rekomendasi dari kedua dosen saya tersebut.

Ketiga, saya benar-benar belajar untuk menulis esai. Saya luangkan waktu saya beberapa jam di Internet hanya untuk mencari contoh-contoh esai yang baik. Selain dari pelatihan menulis laporan yang saya terima di tempat saya bekerja, saya tidak punya pengalaman lain dalam menulis. Karena itu, saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya. Berkali-kali saya meminjam buku-buku di perpustakaan yang saya pikir bisa memberikan pencerahan buat saya dalam menulis esai. Majalah-majalah asing, seperti Time, Newsweek, dan Fortune, saya “lahap” hanya untuk mengerti bagaimana sebuah tulisan menjadi menarik untuk dibaca hingga selesai.

Hasilnya tidak sia-sia. Sekali ini, saya berhasil. AMINEF memanggil saya untuk mengikuti wawancara di Jayapura. Dan akhirnya, saya berhak menyandang gelar “Fulbright Scholar” di tahun 2000. (Tidak terasa ternyata sudah 7 tahun berlalu!)

Semua hal tersebut seolah-olah saya rasakan kembali ketika beberapa waktu lalu saya dan teman-teman moderator milis beasiswa mendapat kesempatan untuk berbagi informasi dan cerita di salah satu universitas di Jakarta. Tapi kilas balik tersebut saya rasakan bukan karena seseorang menceritakan perjuangannya mencari beasiswa. Justru itu saya rasakan karena pertanyaan yang, bagi saya, nadanya sedikit pesimis dari salah seorang peserta acara seminar tersebut.

Pertanyaannya simpel,”Apakah dengan IPK saya yang hanya sedikit di atas 3,00 saya bisa mendapatkan beasiswa?”. Pertanyaan tersebut seolah-olah menggambarkan kalau dengan IPK yang pas-pasan tersebut, tidak ada lagi harapan bagi si penanya. Seolah-olah IPK adalah harga mati yang membuat seseorang tidak bisa (atau bisa) mendapatkan beasiswa. Cepat saya menjawab,”Saya juga IPK-nya segitu kok”. Ya, benar. Walaupun harus malu mengakuinya, IPK S1 saya cuma 3,0x (x nya isi sendiri). Kenyataannya, saya mendapatkan beasiswa tersebut. Kenyataannya, di tahun 2002 saya kembali ke Indonesia sebagai Fulbright Scholar dan ditambah embel-embel MBA.

Jawaban saya ternyata tidak memuaskan penanyanya. Sekali lagi dia maju dan berkomentar, “Mas Togap kan kerja di PT XXX. Jadi ya wajar dong kalau dapet beasiswa tersebut. PT XXX itu kan salah satu penyumbang untuk beasiswa itu!”. Oh well, memang benar saya saat itu tercatat sebagai karyawan di PT XXX. Juga benar, kalau saat itu PT XXX adalah salah satu penyumbang untuk beasiswa Fulbright. Tapi terus terang saja, sekalipun saya tidak pernah berpikir kalau itulah yang menjadi alasan saya mendapatkan beasiswa itu!

Komentar dan pertanyaan yang seperti ini terasa agak menyedihkan buat saya. Karena komentar dan pertanyaan itu lebih terasa menghakimi diri sendiri buat penanyanya daripada menginginkan diskusi. Saya merasa kalau penanyanya dengan menanyakan hal itu justru mencari justifikasi buat ketidakmampuannya untuk mendapatkan beasiswa. Bahkan sebelum dia mencoba, dia sudah berpikir dan “merasakan” kalau dia tidak akan mendapatkan beasiswa tersebut.

Kenyataannya, walaupun belum pernah melakukan survey, saya yakin ada banyak orang Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa walaupun hanya dengan IPK yang cukupan. Bahkan di milis beasiswa, saya ingat pernah membaca cerita tentang seseorang yang mendapatkan beasiswa dengan IPK kepala 2 alias 2,xx! Isn’t it something?

Saya yakin semua ini hanyalah masalah mindset atawa cara pandang. Mindset-lah yang menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal.

Dalam buku Mindset, Carol Dweck PhD menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat dua tipe manusia. Tipe pertama, adalah orang-orang yang mempunyai mindset berkembang. Manusia dengan tipe ini melihat semua kesempatan sebagai proses untuk mengembangkan diri. Manusia tipe ini juga percaya bahwa mereka dapat mencapai segala sesuatu dengan memfokuskan usaha mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tipe kedua, adalah tipe mindset tetap. Manusia dengan tipe ini percaya bahwa kemampuan mereka adalah hasil dari bakat. Mereka percaya bahwa bakatlah yang membawa mereka pada keberhasilan. Karena yang diperlukan hanya bakat, yang nota bene dibawa dari lahir, mereka percaya bahwa usaha tidak diperlukan untuk mendapatkan pencapaian yang mereka inginkan. Dengan bakat yang mereka miliki, dengan sendirinya mereka akan memperoleh hasil. Tapi di sisi lain, tanpa bakat, mereka percaya mereka tidak mungkin mencapai hasil tertentu. Karena itu, orang-orang dengan mindset tetap percaya kalau mereka tidak perlu berusaha (make an effort). Bahkan, bagi mereka, usaha adalah sesuatu yang perlu dihindari. Karena semuanya datang karena bakat, tentu saja tidak ada pentingnya berusaha. Berusaha justru menunjukkan kalau seseorang tidak mempunyai bakat. Dan karenanya bagi mereka, orang yang melakukan sesuatu dengan usaha yang keras sesungguhnya adalah orang yang gagal.

Bagi manusia mindset tetap kegagalan adalah sesuatu yang harus dihindari. Berbeda dengan manusia mindset berkembang, yang menganggap kegagalan adalah satu pengalaman penting untuk belajar kembali. Dari satu kegagalan, kita harus belajar untuk keberhasilan di waktu yang lain. Menarik bahwa konsep neuro-linguistic programming (NLP) mempunyai satu asumsi awal (presupposition) yang sama. Yaitu bahwa kegagalan adalah suatu feedback. There is no failure, only feedback.

Cara pandang mindset berkembang ini memberikan kemerdekaan bagi penganutnya. Mereka merdeka dalam arti kegagalan tidak lagi membelenggu jiwa mereka. Kegagalan justru membebaskan, karena lewat kegagalan mereka memperoleh pembelajaran (learning). Dan, in the end, pembelajaran membawa keberhasilan.

Kembali ke masalah IPK dan beasiswa, bagi manusia dengan mindset berkembang, IPK hanyalah satu faktor dalam mendapatkan beasiswa. Buat mereka, jika IPK sudah keburu hancur, mereka akan mencari faktor lain yang akan menolong mereka mendapatkan beasiswa itu. Dalam salah satu email saya di milis beasiswa, saya pernah tuliskan bahwa selain IPK, banyak hal lain yang bisa memberikan nilai tambah dalam mendapatkan beasiswa. Misalnya, karir yang bagus seperti ditunjukkan dalam surat rekomendasi dari atasan. Keberhasilan lain dalam masyarakat juga bisa ditonjolkan dan menjadi faktor penentu dalam mendapatkan beasiswa. Buat yang senang riset, mungkin yang dilakukannya adalah mencari topik riset yang memberinya kesempatan lebih untuk mendapatkan beasiswa. Buannyakk lagi cara yang bisa dilakukan. Seorang anggota milis beasiswa pernah bercerita kalau dia berhasil memenangkan beasiswa di usahanya yang kelima setelah dia berpindah kerja dari sebuah perusahaan swasta ke LSM! Jadi banyak hal yang bisa dilakukan.

Untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri pun, bukan hanya lewat beasiswa. Member milis beasiswa, Lina, sukses melanjutkan kuliah di Jerman setelah selama setahun bekerja sebagai au-pair. Tugasnya mengawasi anak-anak keluarga tempatnya bekerja. Member yang lain sukses kuliah di Amerika Serikat dengan sistem kamikaze. Artinya, nyemplung dulu ke negara Paman Sam tersebut, dan kemudian berusaha mencari tambahan duit dan beasiswa di sana. (Ternyata beneran buuaanyyakk cara yang bisa dilakukan, kan?)

Perlu dicatat, bahwa orang dengan mindset tetap pun banyak yang memperoleh keberhasilan. John McEnroe, seorang petenis yang terkenal di tahun 80-an, adalah contoh manusia dengan mindset tetap. Tapi dengan segala keberhasilannya, John juga dikenal sebagai pemain tenis yang pemarah dan suka menyalahkan faktor lain di luar dirinya saat harus menerima kekalahan. Menurut Carol Dweck, John McEnroe is a very good example of a person with fixed mindset.

Pada akhirnya, menjadi seseorang dengan mindset tetap atau mindset berkembang (growth mindset) adalah perkara mau memilih yang mana. Anda yang telah mempunyai mindset berkembang, bersyukurlah. Selama Anda mau berusaha, kesuksesan bersama Anda. Sedangkan Anda yang mempunyai mindset tetap, ingatlah bahwa Anda mempunyai pilihan untuk menjadi seseorang yang ber-mindset berkembang. Selama Anda merasa nyaman dengan mindset tetap Anda, it’s fine. Tapi Anda tahu bahwa Anda selalu dapat berubah (dengan latihan) untuk menjadi manusia ber-mindset berkembang.

Klik di sini untuk membaca artikel singkat tentang penelitian Prof. Carol Dweck.

Tetap Termotivasi Walau banyak Kendala

“The ancestor of every action is a thought.”
— Ralph Waldo Emerson


Aku menyebut diri ku sebagai penulis pemula, karena emang lagi mulai belajar nulis. Berkat tulis-menulis aku punya nuklir motivasi yang meledak pada saat dibutuhkan ketika menulis ( hmm meledaknya di kepala ku sendiri loh).

"Hidup ini penuh rintangan", sering banget kita dengar kalimat tersebut. Bukan hidup saja yang penuh rintangan, motivasi itu sendiri punya banyak rintangan. Jika boleh aku berpendapat bahwa ada beberapa rintangan yang perlu diwaspadai agar motivasi tidak padam yaitu; pertama usia, kedua orang terdekat atau keluarga, ketiga lingkungan dan keempat diri anda sendiri.

Pertama, faktor usia: pernah suatu hari aku chatting dengan seorang temen OL, ia bertanya berapa umur ku; lalu pura2 aku katakan kalau usiaku sudah 39 tahun lebih. Lalu ia berkata, “ wah Mbak, tahu tidak usia saya baru 28 tahun”. Saya tafsirkan ucapannya ketika itu bahwa ia menganggap aku ini udah tua dan ia masih muda. Kemudian, aku jawab “ Life is begin at forty.

Bisa saja anggapan seorang yang berusia 20-an menganggap usia 30-an sudah tua dan bisa saja anak usia belasan menanggap orang yang berusia 20-an sebagai orang yang lebih tua. So what?

Bicara soal usia dan soal motivasi memang ada korelasinya, pernah disebutkan dalam istilah HR (kepegawaian) ada tipe “dead horse” artinya SDM yang sudah menjelang usia pensiun dan latar belakang pendidikan rendah dan kebijakan perusahaan biasanya tidak akan pernah mengirim “dead horse “ untuk mengikuti training atau pelatihan dari perusahaan yang biasanya diadakan bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi. Bahkan ada seorang motivator beken; Jim Rohn menulis artikel judulnya "Dont send your Ducks to Eagle School”, ia beranggapan lebih baik merekrut pegawai baru yang sudah punya motivasi daripada memberi motivasi. Aku tidak sependapat dengannya, sebab semua manusia bisa diberi motivasi asal punya kesempatan dan diperlakukan "equal".


Jaman sekarang berbeda, kecenderungan sekarang justru orang yang lebih tua usianya yang lebih termotivasi untuk awet muda, untuk hidup lebih lama. Bisa dilihat sepintas produk-produk obat awet muda laris di pasaran dalam negeri, bahkan di mancanegara. Padahal kalau mau jujur obat awet muda sebetulnya datang dari dalam diri , salah satunya banyak saja senyum akan awet muda dan juga senyum merupakan sedekah. Mengkonsumsi minyak zaitun asli sesendok tiap hari menurut pakar kesehatan obat awet muda, minum teh juga obat awet muda.

Banyak contoh orang yang sudah gaek masih kuat: presiden negara yang menjajah tanah Palestina, baru saja dilantik beberapa hari yang lalu sudah sangat gaek. Pemimpin Cuba Fidel Castro, masih tetap hidup. Orang tertua di dunia pemecah record dunia bisa mencapai usia lebih dari 110 tahun. Di Amerika ada nenek gaek usia 90 tahun masih nyetir mobil. Jadi jumlah usia bukan alasan untuk tidak perlu motivasi.

Kedua, keluarga atau orang terdekat bisa menjadi rintangan. Ortu complain, adikku rewel dan sebgainya. Semangat menulis dan motivasi untuk menulis harus menghadapi komentar-komentar orang terdekat yang terkadang jika kita tidak kuat mental bisa goyah. Justru dengan kendala ini seharusnyalah aku lebih terpacu agar membuktikan pada mereka bahwa saya mampu menjadi penulis dan bisa mentraktir makan keluarga hasil dari tulisan.

Ketiga, faktor lingkungan; waktu yang terbatas, faktor ekonomi antara lain kenaikan biaya hidup, situasi dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung dalam hal ini bisa saja lingkungan baru terkena bencana alam, kondisi politik yang tidak stabil, ada perang, ada kerusuhan, dll. Akibat bencana tsunami dan gempa di Yogya, memberi inspirasi seniman untuk lebih kreatif dan mengadakan pentas menggalang dana bantuan bagi para korban. Banyak blogger asal Iraq muncul sejak pecah perang Iraq yang memberi info langsung bagaimana sebenarnya yang terjadi disana. Hal ini menunjukkan motivasi mereka tidak padam walau dalam kondisi sesulit apapun.

Keempat, diri anda sendiri; “ ahh enggak mood nulis hari ini atau saya lagi enggak mood nih pergi ke seminar, paling sama aja ikut seminar apa enggak nanti juga bisa baca makalahnya”. Itu salah satu contoh rintangan yang datang dari diri sendiri. Contoh lainnya bisa anda renungkan masing-masing dan jangan pernah redup motivasi dalam diri anda.

Ada faktor lain yang saya abaikan yaitu faktor masyarakat, teman, atau kenalan bisa jadi penghambat motivasi, tetapi faktor ini bukan hal yang signifikan sebab dengan mudah kita dapat abaikan. Ingat pepatah Betawi “ Terserah deh ape katenye nyee, yang penting aye sek bodo’ teing”.

Brain Aware

"There are only two things you can do with time -- spend it or invest it. If you spend it, consider it gone forever. When invested, it creates a lifetime residual."

— James Arthur Ray

"There is no reality; only perception "

Pernah menonton sirkus atau atraksi senam yang menampilkan kelenturan tubuh pesenam atau pemain sirkus. Apa yang dapat kita ambil dari kelenturan tubuh adalah sikap kita yang juga harus bisa seperti pegas.

Hukum pegas adalah semakin ditekan dia akan akan semakin melejit. Lihat juga ketika anak-anak bermain lompat-lompatan di kasur pegas, semakin anak kuat menekan pegas maka semakin melenting dia keatas.

Seorang manusia yang bahagia biasanya mempunyai karakter yang lentur, lenting dan tahan bantingan. Tidak masalah berapa banyak dia mengalami hal-hal yang mengecewakan dan gagal. Misalnya wirausahawan yang bangkrut, orang tua bercerai, kemalingan, kehabisan uang, pelajar yang mendapat nilai jelek ataupun seorang kandidat pempimpin yang kalah dalam pemilu. Semua individu pasti pernah mengalami peristiwa yang dianggap buruk atau sial.

Jika aku boleh berpendapat masyarakat Indonesia termasuk golongan yang sangat lenting, sangat kuat daya tahannya terhadap situasi dan kondisi apa pun. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang; rakyat disiksa, tanam paksa, menghadapi embargo pendidikan oleh penjajah dan kekejaman perang lainnya

Kemudian era kemerdekaan rakyat masih terus harus berjuang mengisi kemerdekaannya. Zaman orde lama, orde baru, reformasi dan kini kembali ke trend orde baru lagi. Rakyat masih tetap tegar dan bahkan rela berkorban walau nyawa sekalipun tantangannya. Rakyat Indonesia mati bukan karena bunuh diri. Hanya sedikit sekali statistic angka bunuh diri di Indonesia. Tidak seperti yang terjadi di negara maju dan negara lainnya, karena tidak tahan menghadapi ujian hidup mereka bunuh diri. Apalagi kini krisis sudah ekonomi sudah mulai menjalar dari Amerika menjalar ke Eropa dan Asia. Sedangkan Afrika memang sudah krisis sejak dahulu.

Harga minyak sudah mencapai harga $120 per barrel, harga emas sudah $800 per troyounce (333,34 gram). Harga beras juga melangit, harga kebutuhan pokok hidup lainnya melonjak naik tajam.

Pada umumnya rakyat jelata yang lebih tahan banting, yang paling lentur terhadap situasi krisis. Seharusnya belajar manejemen krisis dari rakyat jelata, para petani dan buruh kasar, pekerja sektor informal.

Masa-masa krisis saat ini merupakan masa ujian bagi kita semua. Jika kita melihat peristiwa yang kita alami sebagai ketidak-beruntungan, maka yang masuk dalam otak dan pikiran kita adalah hal yang negatif. Tidak saya sarankan jika tertimpa musibah langsung menjadi stress. Namun mulailah biasakan mengontrol diri dengan cara bijaksana.

Cara bijkasana jika aku boleh ungkapkan adalah bersyukurlah setiap hari, bisa dengan cara menulis atau menginvetarisir hal-hal apa saja yang membuat hati Anda senang. Sikapilah peristiwa yang dianggap buruk sebagai kejadian yang akan hikmahnya. Hikmah mengandung arti bahwa ada sesuatu yang baik dibalik hal itu. Dalam konsep spiritual biasa disebut sebagai ujian. Ingat dalam kitab suci disebutkan manusia diciptakan untuk diuji.

Otak dan pikiran manusia yang ditimbulkannya setiap saat adalah berisi persepsi, tidak ada hal yang nyata (realitas) di dunia ini. Jika menurut Anda sesuatu hal itu buruk atau pembawa sial maka itu akan terjadi sesuai persepsi kita, kenyataannya belum tentu benar atau absolut.

Dalam teori sosiologi disebutkan fakta sosial sebagai sui generic, artinya masyarakat, kelompok, individu memandang sesuatu berdasarkan kesepakatan dari sudut pandang mereka. Misalnya; mogok kerja dianggap sikap patriotik di sebagian kelompok masyarakat kaum pekerja. Sebaliknya kelompok masyarakat lain menganggap mogok kerja merupakan hal yang merugikan. Seorang pekerja pernah mengatakan satu hari mogok kerja maka gaji sebesar 60 euro akan dipotong oleh perusahaan tempat dia bekerja. Namun karena solidaritas yang tinggi dalam serikat pekerja di seluruh sektor di German. Maka setiap diadakan hari mogok kerja, maka seluruh pekerja akan turut mogok dan tidak seorang pun yang masuk kerja.

Otak memegang peranan utama aktifitas setiap manusia. Sama halnya dengan DNA maka otak manusia juga tidak ada yang sama strukturnya. Menurut seorang profesor dari Universitas terkenal di Berlin, "otak manusia harus dirawat dan dijaga baik-baik agar dapat menghasilkan pikiran cerdas dan positif".

Tiga rahasia agar otak kita cerdas adalah:
1. Memakan makanan yang sesuai untuk perkembangan otak. Misalnya, makanan yang banyak mengandung antioxidant ( buah-buahan), omega3 (telur, ikan dll). Hindari lemak yang berlebihan.
2. Olah raga otak. Otak juga butuh olah raga dengan cara mengisi TTS, rekreasi dan tentu saja berbagai jenis olah raga lainnya.
3. Tidur yang cukup.

Professor tersebut menyatakan bahwa sebagian besar manusia beraktifitas di siang hari, sehingga malam hari haruslah digunakan sebagai waktu tidur. Walau pun kita tertidur namun sel-sel otak tetap bekerja. Jika tiga hal tersebut Anda lakukan, maka Anda akan selamat dari penyakit sering lupa. Tapi bukan lupanya para politisi loh yang ketika pemilu sering banget berjanji muluk-muluk setinggi langit tapi ketika sudah terpilih dia lupa pada janji. Lupanya politisi memang disengaja, hehehe.

Monday, May 5, 2008

Cara Cepat Menyusun Skripsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.

Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.

Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.

Apa itu Skripsi

Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.

Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan

Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?

Tahap-tahap Persiapan

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

Kiat Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

  • Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
  • Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.

Tapi, keuntungannya:

  • Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
  • Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
  • Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.

Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.

Format Skripsi yang Benar

Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).

Beberapa Kesalahan Pemula

Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.

Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?